Kamu gak selamanya bisa bersikap acuh tak acuh. Akan ada keadaan dimana hal-hal kecil menjadi sangat sensitif, dimana keadaan terasa tak nyaman, kamu harus berusaha membuat keadaan kembali membaik dengan cara lebih fokus dan tak bersikap acuh tak acuh lagi meski itu sebenarnya adalah sifat dasarmu.
Ya, kebahagiaan itu diperjuangkan, bukan ditunggu. Kamu, sampai dimana memperjuangkannya?
Ingat, menyatukan dua hati itu tak cukup dengan orang lain menerima kamu apa adanya saja, tetapi kamu harus merendah dan dia meninggi atau sebaliknya demi menemukan titik kenyamanan. titik dimana terciptanya rasa saling mengerti dan dimengerti. Kalimat sederhanya adalah 'Tidak egois'.
Kamu sudahkah memikirkan itu ketika prahara menerjang?
-12.04.2013-
Senyum itu lagi, senyum yang selalu membuat aku kelabakan dan salah tingkah. Sampai detik ini aku tak mengerti kenapa begitu mudah bagimu, tersenyum dan kemudian membuatku kehilangan kontrol diri, dalam beberapa detik aku akan diam, tak bisa berkata apa-apa, bahkan ketika kamu memanggil aku, aku tetap terdiam atau berkata terbata-bata.
Damn. Hanya kamu yang mampu membuatku terlihat bodoh seperti itu.
-10.04.2013-
Kamu pernah merasakan rindu yang membuat dadamu terasa sesak? Ini aku sedang merasakannya. Seperti beban ratusan kilo menekan dadamu dan kamu tak tahu harus melakukan apa. Semuanya masih tentang kamu, ya, tentu saja masih kamu, siapa lagi? Hanya kamu yang mampu menyita perasaanku, sepaket dengan mengaduk emosiku.
Aku masih mengintip berandamu, masih juga melihat tweetmu, dan entah mengapa aku selalu saja tersenyum ketika melihat semua itu. Kamu memang paling bisa membuatku tersenyum, bahkan hanya karena status yang kamu buat.
Lalu aku tersadar, kita telah berjalan masing-masing, itu komitmen kita. Aku menghargainya. Sangat. Namun ada perih yang tiba-tiba terasa di hati ketika aku menyadari semua itu. Tak mengapa, kamu tak perlu risau, aku hanya sedang mencoba berdamai dengan hati, lalu kemudian aku akan mengusap dada sebelah kiriku dan berkata, "Semuanya akan baik-baik saja." Itu bohong! Ya, tentu saja itu bohong, semuanya tidak baik-baik saja, setidaknya hingga detik ini. Mungkin esok, mungkin lusa atau nanti setelah beberapa tahun semuanya akan terasa baik kembali. Hey, atau juga tak lama lagi aku akan bertemu dengan dia yang sepertimu, dia yang mempunyai senyum yang bisa membuatku terdiam beberapa detik saat menatapnya? Seperti senyummu itu. Semoga. Aku hanya tak mau berlama-lama larut dalam angan tentangmu.
Semua ini masih tentang kamu, tentang kita yang tak bisa bersama..
Ahh..
-10.04.2013-
Aku tahu ini berat buatmu, tapi kamu harus tahu juga ini sama beratnya buatku bahkan lebih mungkin. Tapi tak mengapa, seperti yang pernah kukatakan padamu, cinta adalah soal kenyamanan, cinta juga soal memberikan ruang, dan yang paling utama cinta itu soal keikhlasan. Dan aku ingin memeknainya.
Aku pernah dengar, kalau kita berusaha mengerti dan terus berkorban, suatu hari malah kita yang akan terluka. Benar menurutku, tapi buatku luka itu membuatku bangga, karena dalam keadaan terluka aku bisa mempersembahkan apa yang bisa aku berikan dari hati walau akhirnya aku merasa tak dimengerti, itu tak mengapa, cinta itu tanpa pamrih bukan?
Tapi aku juga tak mau egois, sedikit banyaknya kenyamananmu dipengaruhi sikapku atau perlakuanku. Pasti. Satu hal yang harus kamu tahu, Sayang, mungkin aku tak bisa memberikan cinta seperti yang kuharapkan, demi Allah aku hanya manusia biasa yang penuh dengan kekurangan, namun aku mencintaimu dengan caraku, dengan segenap hati dan jiwaku.
Dan sekarang, aku tak banyak berharap, tak ingin berangan tinggi. Biarlah esok kita jelang masing-masing, aku dengan jalanku, kamu juga dengan jalanmu, mengejar mimpi dan asa masing-masing. Cukup melihatmu dari kejauhan, lalu tahu kamu akan baik-baik saja dan membohongi diriku kalau semua itu sudah cukup (tentu saja aku butuh waktu untuk menata hatiku).
Oh iya, sesekali ingat aku, hanya untuk menyadari bahwa pernah ada lelaki yang mencintaimu lebih dari dunia dan isinya.
-8.04.2013-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar