Bahagia itu sederhana..
Sering kamu bercerita tentang isi buku yang kamu baca, menyampaikan dengan ekspresi yang selalu membuatku mengusap dada demi menenangkan gemuruh di dalamnya, ya, kamu selalu terlihat cantik bagaimana pun ekspresi wajahmu.
Dan tak jarang juga aku bercerita tentang buku yang aku baca, aku memang lebih suka buku yang membuat jiwa terasa tentram, sedangkan kamu lebih suka buku fiksi. Ah, kita memang tak pernah sama tetapi selalu akur. Seperti beberapa malam yang lalu, aku menceritakan isi buku yang di dalamnya ada kisah-kisah tentang kekuasaan Tuhan, aku menceitakan dengan penuh penghayatan, dan seperti biasa dengan suara pelan aku bercerita, lalu kamu tertidur di sebelahku sembari mendengarkan.
Tahukah kamu? Aku bahagia saat itu.
-27.02.2013-
Mungkin kita harus belajar saling mengerti lagi untuk berbahagia. Aku mengerti maumu, kamupun mengerti harapku. Namun satu yang harus kita yakini, apapun yang ada di benak kita walau itu tak sama satu sama lain, itu adalah pemikiran-pemikiran kita untuk memperjuangkan kebahagiaan kita. Ya, aku mengerti setiap ucap yang keluar dari bibirmu adalah semua tentang usaha untuk mempertahankan hubungan kita agar terus searah.
Kamu sering merasa lelah, bukan? Pasti, akupun sering merasakannya. Bahkan tak jarang sebuah pemikiran terlintas di benakku, "Apakah memang kamu bahagiaku?"
Mungkin Tuhan menginginkan kita memandang jauh keluar diri kita, tak memaksakan segala yang kita inginkan, karena bahagia itu tak selalu mementingkan diri sendiri. Ya, bahagia itu adalah memberikan kebahagiaan untuk orang yang kita cintai, dan buatku itu kamu.
Apapun yang kita hadapi sekarang yakini sebagai langkah dan proses dalam menyatukan dua hati yang berbeda. Tak perlu mencari persamaannya, karena semakin kita mencari persamaan, kita hanya akan mendapati perbedaan.
Lalu tak usah juga kamu mengkhawatirkan hari esok, biarlah hari esok tetap menjadi misteri, jangan biarkan kekhawatiran hari esok membuat kita tidak bisa menikmati hari ini. Yang penting kita selalu bergandeng tangan dalam menghadapinya. Karena bahagiaku saat ini adalah menikmati setiap detik mencintaimu.
-26.01.2013-
Lagi-lagi kamu datang. Coba aku tebak, pasti kamu akan datang dengan ceritamu tentangnya yang tetap sama seperti dulu, menyakitimu. Dan aku akan tetap melayani setiap keluhanmu, selalu menjadi telinga yang baik lalu setelahnya aku akan berpanjang lebar berbicara demi mengangkat asamu, bukankah memang selalu begitu? aku selalu ada.
Aku makin hafal sikapmu memperlakukan aku, tapi tak mengapa, aku tak memintamu untuk menghargaiku, aku tak memintamu ada untukku seperti aku ada untuk kamu kapanpun itu. Cukup kamu tahu saja, akan tiba waktunya dimana aku pergi, saat aku tak mampu lagi membagi telinga dan pengertianku.
Satu hal lagi, belajarlah untuk mendengarkan.
-14.01.2013-
Masih ingat bagaimana dulu kita sering berbincang banyak hal? Sering berlama-lama di cafe favorit kita, tempat dimana ada penyewaan buku juga, lalu kamu bermimpi ingin mempunyai tempat yang sama seperti cafe itu.
Atau berlama-lama juga ditelpon, ada saja bahasan kita, dari hal lucu, mengharukan, menyenangkan, hingga tentang kesedihan kita satu sama lain, lalu kita akan tersadar kalau kita telah menghabiskan waktu berjam-jam karena itu, sampai panas telingaku karenanya.
Bahkan tak jarang kita membiarkan telpon tetap terhubung tanpa kita bicara satu sama lain, alasanmu biar kita selalu terasa dekat, lalu tak berapa aku akan mendengar dengkur halusmu pertanda kamu terlelap, dan aku akan membiarkan telpon mati dengan sendirinya. Ya, sering seperti itu. Dulu.
-9.01.2013-
Aku pernah memikirkanmu sesering aku mampu, tak perduli seberapa sibuknya aku, kamu selalu mendominasi fikiranku. Pertanyaan yang paling sering terbesit adalah "Kamu sedang apa ya?" atau "Kira-kira kamu lagi dimana ya?" Namun itu dulu, sebelum aku memutuskan untuk tidak memikirkanmu seluang apapun waktuku.
Aku pernah melakukan apa saja demi menemuimu, tak perduli sedang melakukan apa, cukup dengan meng-SMS diriku, aku akan cepat datang. Namun itu dulu, sebelum ku memutuskan untuk tidak menemuimu, seluang apapun aku dengan hariku.
Sekarang, ketika semuanya tak seperti dulu, ketika yang ada adalah kamu yang kehilanganku, adalah saat semuanya berbalik. ya, karena dulu sering kali aku yang kehilanganmu. Sering kali aku yang selalu bilang "Ya sudah kalau kamu sedang sibuk." padahal aku tahu waktumu sedang luang.
Sekarang adalah keadaan dimana fikiranmu yang didominasi olehku, buktinya dalam sehari kamu bisa meng-SMSku dengan pertanyaan yang sama, "Kamu sedang apa?"
Apakah kamu sadar betapa "kehadiaran" dan "menyempatkan" adalah hal yang penting dalam suatu hubungan pada saat kamu tak mendapatkan itu dari orang lain?
-9.01.2013-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar